RACANA UIN JAKARTA MENJELAJAHI BUMI SRIWIJAYA

Image

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam silaturahim kami sampaikan, semoga kakak-kakak beserta keluarga senantiasa dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala dan sukses dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amiin. Alhamdulillah, 23 Pengembara Racana UIN Jakarta angkatan 2013-b tiba di kampus tercinta. Setelah delapan hari mengembara di Bumi Sriwijaya Palembang, akhirnya peserta Pengembaraan 2014 yang terdiri dari 9 putra dan 14 putri Racana Fatahillah – Nyi Mas Gandasari tiba di kampus pada tanggal 28 Februari 2014.

“Kota Palembang menjadi sasaran Pengembaraan tahun ini, dengan tujuan ingin menambah ilmu kepramukaan, menjalin silaturahmi, mempelajari kebudayaan dan mengetahui perbandingan dan gambaran kegiatan Pramuka di Sumatera khususnya di Kota Palembang”, ucap Ka Luthfi selaku ketua Pengembaraan. Dalam kegiatan pengembaraan, peserta melakukan kegiatan Studi Komparatif di kampus yang ada di Kota Palembang, ada empat Racana yang dikunjungi dalam Pengembaraan kali ini, yaitu:

1. Racana Ki Hajar Dewantara – RA Kartini (Universitas PGRI Palembang)

2. Racana KH. Ahmad Dahlan – Nyi Siti Walidah (Universitas Muhammadiyah Palembang)

3. Racana Raden Fatah – Nyi Ageng Malaka (IAIN Raden Fatah Palembang)

4. Racana Sultan Mahmud Badaruddin II – Putri Rambut Selako (Universitas Sriwijaya Palembang).

Selain Studi Komparatif peserta juga melakukan Studi Sejarah di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II untuk belajar dan mengetahui sejarah serta budaya di Bumi Sriwijaya. Alangkah kaya bangsa Indonesia dengan bermacam-macam budaya dan adat masing-masing daerah, mari kita jaga sejarah dan kita lestarikan kebudayaan Indonesia. Kegiatan lainnya, peserta juga melakukan Studi Wisata di Sungai Musi yang terkenal dengan Jembatan Amperanya, disini kita belajar dan memahami kebesaran Allah yang menciptakan langit, bumi, laut dan sungai-sungai di bumi ini dan salah satunya Sungai Musi yang dikunjungi. Tak cukup sampai disitu, peserta juga mempelajari makanan khas Palembang yang sudah terkenal di penjuru Nusantara, mereka melakukan Studi Usaha di pabrik Pempek Cek Lin, disana mereka belajar tentang bagaimana pembuatan dan produksinya hingga pemasaranya. Semoga ilmu yang kita pelajari bisa bermanfaat dan di aplikasikan di Racana, juga untuk diri sendiri menjadi seorang pengusaha. Amiin. Tidak ketinggalan kegiatan Bakti Sosial yang dilaksanakan di Yayasan Panti Asuhan Muhammad Ali yang lokasinya tidak jauh dari Universitas Sriwijaya Palembang. Di sana kita berbagi ilmu kepada adik-adik panti untuk membuat kerajinan tangan dengan harapan mereka bisa mengaplikasikanya sebagai karya mereka agar menjadi anak yang mandiri. Kemudian peserta melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta dengan melewati jalur darat dan laut, sampai tibalah mereka di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan di sambut oleh Dewan, Pembina, Dewan Kehormatan Pandega serta Senioren.

Selesailah Perjalanan peserta Pengembaraan di Bumi Sriwijaya dan Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar atas izin dan pertolongan Allah. “Kami haturkan banyak terimakasih kepada seluruh instansi yang mendukung dan turut mensukseskan kegiatan Pengembaraan ini, semoga amal ibadah dan kebaikanya di terima Allah”, ucap Ka Luthfi. Dan semoga ilmu yang di dapat oleh kakak-kakak peserta Pengembaraan bisa bermanfaat dan diaplikasikan baik untuk dirinya dan untuk Racana tercinta. Terus semangat untuk Racana UIN Jakarta.
Sampai bertemu kembali di postingan selanjutnya,
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Image

Foto bersama Pengurus Dewan Racana dan Purna Pandega serta Warga Racana sebelum pemberangkatan

 

Image

Kak Nurul Rof’ah menerima bingkisan perbekalan dari Pengurus Dewan Racana yang diwakilkan oleh Kak Herianto Pasaribu (Ketua Dewan Racana)

 

Image

Air suci yang dibasuhkan ke muka dan kaki sebagai simbol diterima kembali para pengembara dari Bumi Sriwijaya

 

Image

Kak Fitriana Rahmawati sebagai Pemangku Adat Putri membasuh kaki pengembara putri

diposting oleh : FK

Seputar ‘Proses dan Hasil’ Laporan Pengembaraan Angkatan 2009

Suasana presentasi laporan pengembaraan angkatan 2009 pada Minggu (21/3) sore yang akhirnya harus ditunda selama dua pekan. Pertemuan digelar kembali pada Jumat (2/4). (foto dok. kominfo DRFN)

Proses itu harus jujur dan tanpa pamrih. Sesukses apapun hasilnya itu tentunya yang menjadi dasar penilaiannya ada pada proses. Jadi, bukan berarti hasilnya tak dihargai, namun  karena melihat prosesnya ada yang janggal, maka hasil itu sama sekali tak ada artinya apa-apa. Pun dengan laporan yang kalian buat, sehebat apapun, karena kami melihat ada yang tidak beres, maka dengan sangat menyesal, kami belum bisa menerima laporan ini, sebelum ada perubahan.

berkas laporan pengembaraan calon pandega angkatan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Ya, paling tidak itulah kesimpulan para penilai akhir yang terdiri dari para purna Pandega dan Pandega yang tergabung dalam Dewan Kehormatan Pandega yang didampingi pengurus Dewan Racana Pandega Fatahillah-Nyi Mas Gandasari  terhadap laporan perjalanan calon Pandega angkatan 2009 yang melakukan pengembaraan beberapa waktu lalu –dalam rangka memenuhi tahapan proses pembinaan calon Pandega menjadi Pandega di Racana UIN Jakarta. Pengembaraan sendiri dilakukan pada 14 – 20 Februari 2010 dari Jakarta ke Malang, Jawa Timur.

Akhirnya, laporan Pengembaraan yang berlangsung pada Minggu (21/3) itu ditunda untuk sementara waktu karena beberapa alasan. Selain ketidakhadiran dua orang calon Pandega yang ikut dalam pengembaraan, para penilai akhir pun melihat adanya inkonsistensi dari para peserta untuk bisa hadir bersama. Memang keputusan untuk ditunda atau dilanjutkan laporan tersebut dikembalikan lagi kepada para calon Pandega yang tengah ‘berproses’ menjadi Pandega.

Saat itu memang ada dua pilihan yang ditawarkan  oleh tim penilai. Pertama, pertemuan laporan tetap dilanjutkan untuk presentasi laporan pribadi sedangkan laporan kelompok ditunda. Dimana, setiap calon Pandega melaporkan perjalanannya dan hasil yang didapat selama ‘pengembaraan’ mereka yang tentunya sudah mereka tuangkan dalam bentuk ‘jejak rekam perjalanan’. Sementara dua orang Calon Pandega yang tidak hadir akan menyusul, berikut presentasi laporan kelompok.  Opsi kedua adalah laporan kelompok maupun laporan pribadi ditunda hingga seluruh peserta bisa berkumpul semuanya. Dan rupanya, opsi kedua inilah yang mereka pilih. Ya, mungkin para calon Pandega ini ingin menunjukkan bahwa mereka masih tetap ‘konsisten’ dengan apa yang dulu disampaikan saat presentasi pengajuan proposal pengembaraan. Akhirnya setelah mereka berunding mengenai waktunya, maka jatuhlah pada hari Jumat, (2/4).

Dan memang, ketika waktunya tiba, Jumat siang berhias hujan rintik-rintik bertempat di lobi parkiran FITK pertemuan lanjutan atau lebih pasnya pertemuan ulang berlangsung. Kali ini pertemuan berlangsung santai dan ketegangan agak mulai mencair. Hal ini tampak dari raut wajah calon Pandega yang lebih ceria dan sumringah dengan tanpa harus mengenakan ‘seragam kebesaran’ mereka alias baju Pramuka. Meski ada beberapa Pandega juga yang mengenakan baju pramuka.

Presentasi pun dimulai dengan sedikit pengantar dari Ketua Dewan Racana (KDR), Kak Adam dan sedikit arahan dari tim penilai yang diwakili oleh Kak Hayat. Selama 30 menit, para calon Pandega secara bergantian menyampaikan laporan pengembaraan. Mulai dari proses perjalanan dari Jakarta menuju ke Malang, studi banding, studi wisata, bakti sosial, laporan keuangan hingga rekomendasi-rekomendasi dari tim pengembaraan yang ditujukan kepada Dewan Racana dan warganya.

Usai mempresentasikan hasil yang didapat selama pengembaraan, tiba giliran para Pandega dan purna Pandega untuk mengkritisi terhadap apa yang mereka laporkan. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh para Pandega, bahkan tak sedikit beberapa klarifikasi dan informasi yang disampaikan kepada tim pengembaraan sebagai pembanding dengan apa yang mereka peroleh selama pengembaraan. Disinilah proses pendewasaan para calon pandega, pandega dan purna pandega diuji.

Setelah dirasa cukup dalam memberikan pandangan, saran serta komentar-komentar berkaitan dengan apa yang dilaporkan peserta pengembaraan, akhirnya acara dilanjut dengan presentasi laporan pribadi. Sebanyak 25 calon Pandega itu mempresentasikan laporan ‘jejak rekam perjalanan’ masing-masing kepada para Pandega yang telah ditunjuk sebagai mentornya. Waktu 30 menit yang ditentukan rupanya dirasa belum cukup bagi mereka untuk saling ‘ngobrol‘ lebih santai tentang perjalanannya selama sepekan di Malang. Akhirnya, disepakati untuk memberi waktu tambahan 10 menit untuk calon Pandega saling sumbang saran dan masukan bersama mentor tentang apa yang mereka dapat selama pengembaraan.

Serah terima berkas laporan perngembaraan dari Kak Olid ke wakil KDR, Kak Yuli (foto dok. kominfo DRFN)

Meski waktu tambahan masih dirasa kurang, namun mau tidak mau harus diakhiri untuk segera mendengarkan pandangan akhir dari tim penilai yang menjadi mentor para calon pandega dalam laporan pribadi. Dalam pandangan akhir tersebut, mayoritas tim penilai menyatakan menerima laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009, meski ada diantaranya yang memberikan kata ‘dengan syarat’. Dalam kesempatan itu hanya satu Pandega saja yang dengan tegas menyatakan menolak laporan tersebut. “Dengan sangat menyesal saya menolak laporan pengembaraan angkatan 2009,” tegas Kak Emon mantan Pemangku Adat Putra.

Akhirnya, karena sebagian besar menerimanya, maka laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009 pun diterima. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus dilengkapi dalam laporan tersebut. Serah terima laporan pengembaraan secara simbolis dilakukan oleh Ketua Kelompok yang diwakili oleh Kak Awan dan Kak Olid menyerahkan berkas laporan kelompok dan laporan pribadi kepada KDR Kak Adam dan Wakil KDR Kak Yuli. Dengan raut wajah sumringah keduanya menerima laporan tersebut.

Di bawah ini beberapa bidikan perjalanan tim pengembaraan calon pandega angkatan 2009:

saat upacara pelepasan peserta pengembaraan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Penyerahan 'bekal' untuk selama pengembaraan oleh KDR Kak Adam kepada Ketua Kelompok Pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Ada beberapa proses yang terlewati sehingga mau tak mau harus dikerjakan saat itu juga. (foto dok. kominfo DRFN)

Pengarahan khusus, sekedar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur. (foto dok. kominfo DRFN)

Akhirnya perjalanan pun dimulai.... (foto dok. kominfo DRFN)

Upacara penyambutan peserta pengembaraan ketika tiba kembali di kampus UIN Jakarta pada Sabtu (20/2). (foto dok. kominfo DRFN)

Ritual adat penyambutan warga --yang dilakukan oleh Pemangku Adat-- kembali dari perjalanan pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Calon pandega peserta pengembaraan melakukan sujud syukur setelah dinyatakan diterima secara adat sekembalinya pulang dari pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Paling tidak itulah jejak rekam proses pengembaraan yang berlangsung di kampus UIN Jakarta. Untuk kisah para ‘pengembara’ masing-masing telah menuangkannya dalam ‘jejak rekam pengembaraan’ yang dalam waktu dekat ini bakal kami posting di blog ini…. ada banyak cerita menarik dari masing-masing pengembara, tunggu yaaa….

@@@

Ditulis dan diposting oleh Hayat F (purna Pandega/1995)