Rapat Kerja Paruh I Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari

Seluruh dewan pengurus Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari melaksanakan rapat kerja paruh I pada hari Kamis-Jum’at, 11-12 Februari 2016 untuk membahas program kerja selama 6 bulan pertama. Rapat kerja paruh I ini diketuai oleh kak Ahmad Muhammad dengan tema “Wujudkan Kinerja yang Loyal dengan Kerjasama demi Tercapainya Pembinaan yang Produktif”.

12733512_1874280352798249_1720162649545799131_n

Tema Rapat Kerja Paruh I Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari periode 2016

12715255_1874309186128699_8975337819922282192_n

Sidang Pendahuluan Raker paruh I dipimpin oleh kak Ahmad Muhammad, kak Romlah dan kak Hakiki Suci

12715615_1874459139447037_4595266825157159718_n

Suasana Rapat Kerja Paruh I Racana Fatahillah-Nyimas Gandasari

Semoga para dewan pengurus Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari periode 2016 dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.

Satyaku Ku Dharmakan

Dharmaku Ku Baktikan

Salam Pramuka!!

Iklan

Pelantikan Dewan dan Kelompok Kerja

Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari punya berita terhangat yaitu pergantian pengurus dewan Racana pada tanggal 23 Januari 2016, bertempat di Aula Madya lantai 2. Ketua Racana periode sebelumnya dijabat oleh Wahyudin dan Nurbaiti kini telah digantikan oleh Mohamad Fadholi didampingi oleh wakilnya Yulia Hilma. Pemangku Adat periode sebelumnya dijabat oleh Ahmad Farhan dan Sulastri Rahayu kini telah digantikan oleh M. Maftuh Rahmat dan didampingi oleh wakilnya Dwi Susanti.

Berikut ini adalah suasana upacara pelantikan Dewan masa bhakti 2016

IMG20160123111400

Upacara Adat Pelantikan Dewan Racana Masa Bhakti 2016 dipimpin oleh kak Cecep

Serah terima jabatan dari KDR periode 2015 kepada KDR terpilih periode 2016

 

Serah terima jabatan dari Pemangku Adat periode 2015 kepada Pemangku Adat terpilih periode 2016

 

Semoga KDR serta jajarannya dapat menjalankan amanah dan tanggung jawab dengan maksimal dan sebaik mungkin, sehingga Racana kami dapat berkembang dengan baik. Aamiin..

Jaya lah Pramuka!

Jaya lah Indonesia!

Salam Pramuka!!!

Selamat dan Teruslah Memandu

Tampak raut wajah gembira penuh asa dan semangat untuk mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai PANDEGA

Setelah melalui rangkaian proses pendidikan dan pembinaan serta pengabdian, akhirnya sekira 14 orang Calon Pandega Racana Fatahillah-Nyi Mas Gandasari UIN Jakarta angkatan 2009, Minggu (26/9) pagi dikukuhkan menjadi Pandega. Prosesi pelantikan sendiri berlangsung di kawasan Pondok Petir, Sawangan, Depok, Jawa Barat. Dimana sebelumnya keempat belas Calon Pandega ini melakukan perjalanan malam dari Kampus UIN Jakarta yang terletak di kawasan Ciputat.

Sebelum pembina menyematkan balok Pandega kepada keempat belas calon pandega, tampak dalam upacara pelantikan Pandega itu, raut muka yang penuh ketegangan. Ya, seperti biasa, berbagai ‘pengujian’ baik penguasaan materi kepramukaan, keracanaan, wawasan kebangsaan, keagamaan, sosiologi serta wawasan umum harus mereka lalui dalam perjalanan malam tersebut. Tidak hanya itu, dalam prosesi tersebut, para calon pandega pun harus melalui penilaian akhir dari Dewan Kehormatan Pandega atas rekomendasi Dewan Racana Pandega.

Sebelumnya, mereka juga sekira 18 bulan pendidikan dan pembinaan yang diberikan Dewan Racana Pandega, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam organisasi maupun di tengah masyarakat. Paling tidak, para calon pandega UIN Jakarta, usai dinyatakan sebagai anggota Racana harus mengikuti pendidikan dan latihan dasar, pendadaran, pengembaraan, ikut serta membangun organisasi dan masyarakat (pengabdian diri baik dalam organisasi satuan, maupun masyarakat).

Akhirnya kesungguhan para calon pandega akhirnya membuahkan hasil dengan dikukuhkannya mereka sebagai Pandega. Maka, usai mengucapkan ulang janji di hadapan pembina, purna Pandega dan Pandega serta Dewan Racana Pandega yang dilanjutkan dengan penyematan balok Pandega secara simbolis, raut wajah sumringah penuh haru pun menyeruak di wajah-wajah pandega baru pagi itu.

“Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga usaha keras kita. Semoga kita bisa mengemban tugas dan tanggungjawab sebagai seorang pramuka pandega, ” ujar Kak Maulida.

Adapun nama-nama anggota Racana UIN Jakarta terdiri dari 6 orang putra dan 8 orang putri yang baru saja dilantik sebagai Pandega adalah sebagai berikut:

  1. Kak Abdullah Suntani
  2. Kak Fauzul Arifin
  3. Kak Rizki Malia Pradana
  4. Kak Ambo Ilang
  5. Kak Irwan Setiawan
  6. Kak Ihwan Rizki
  7. Kak Maulidah Al-Churriyah
  8. Kak Rosyi Nurrosyidah
  9. Kak Siti Zaenah
  10. Kak Nurulia Dwi Febriani
  11. Kak Amalina
  12. Kak Nurhalimah
  13. Kak Nia Nirawati
  14. Kak Anjar Sari

Semoga beberapa nama calon pandega angkatan 2009 yang belum menempuh proses untuk menjadi pandega segera menyusul dalam waktu dekat ini.

Selamat dan teruslah memandu!

@@@

Ditulis dan diposting oleh Kak Hayat (purna Pandega’95)

Seputar ‘Proses dan Hasil’ Laporan Pengembaraan Angkatan 2009

Suasana presentasi laporan pengembaraan angkatan 2009 pada Minggu (21/3) sore yang akhirnya harus ditunda selama dua pekan. Pertemuan digelar kembali pada Jumat (2/4). (foto dok. kominfo DRFN)

Proses itu harus jujur dan tanpa pamrih. Sesukses apapun hasilnya itu tentunya yang menjadi dasar penilaiannya ada pada proses. Jadi, bukan berarti hasilnya tak dihargai, namun  karena melihat prosesnya ada yang janggal, maka hasil itu sama sekali tak ada artinya apa-apa. Pun dengan laporan yang kalian buat, sehebat apapun, karena kami melihat ada yang tidak beres, maka dengan sangat menyesal, kami belum bisa menerima laporan ini, sebelum ada perubahan.

berkas laporan pengembaraan calon pandega angkatan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Ya, paling tidak itulah kesimpulan para penilai akhir yang terdiri dari para purna Pandega dan Pandega yang tergabung dalam Dewan Kehormatan Pandega yang didampingi pengurus Dewan Racana Pandega Fatahillah-Nyi Mas Gandasari  terhadap laporan perjalanan calon Pandega angkatan 2009 yang melakukan pengembaraan beberapa waktu lalu –dalam rangka memenuhi tahapan proses pembinaan calon Pandega menjadi Pandega di Racana UIN Jakarta. Pengembaraan sendiri dilakukan pada 14 – 20 Februari 2010 dari Jakarta ke Malang, Jawa Timur.

Akhirnya, laporan Pengembaraan yang berlangsung pada Minggu (21/3) itu ditunda untuk sementara waktu karena beberapa alasan. Selain ketidakhadiran dua orang calon Pandega yang ikut dalam pengembaraan, para penilai akhir pun melihat adanya inkonsistensi dari para peserta untuk bisa hadir bersama. Memang keputusan untuk ditunda atau dilanjutkan laporan tersebut dikembalikan lagi kepada para calon Pandega yang tengah ‘berproses’ menjadi Pandega.

Saat itu memang ada dua pilihan yang ditawarkan  oleh tim penilai. Pertama, pertemuan laporan tetap dilanjutkan untuk presentasi laporan pribadi sedangkan laporan kelompok ditunda. Dimana, setiap calon Pandega melaporkan perjalanannya dan hasil yang didapat selama ‘pengembaraan’ mereka yang tentunya sudah mereka tuangkan dalam bentuk ‘jejak rekam perjalanan’. Sementara dua orang Calon Pandega yang tidak hadir akan menyusul, berikut presentasi laporan kelompok.  Opsi kedua adalah laporan kelompok maupun laporan pribadi ditunda hingga seluruh peserta bisa berkumpul semuanya. Dan rupanya, opsi kedua inilah yang mereka pilih. Ya, mungkin para calon Pandega ini ingin menunjukkan bahwa mereka masih tetap ‘konsisten’ dengan apa yang dulu disampaikan saat presentasi pengajuan proposal pengembaraan. Akhirnya setelah mereka berunding mengenai waktunya, maka jatuhlah pada hari Jumat, (2/4).

Dan memang, ketika waktunya tiba, Jumat siang berhias hujan rintik-rintik bertempat di lobi parkiran FITK pertemuan lanjutan atau lebih pasnya pertemuan ulang berlangsung. Kali ini pertemuan berlangsung santai dan ketegangan agak mulai mencair. Hal ini tampak dari raut wajah calon Pandega yang lebih ceria dan sumringah dengan tanpa harus mengenakan ‘seragam kebesaran’ mereka alias baju Pramuka. Meski ada beberapa Pandega juga yang mengenakan baju pramuka.

Presentasi pun dimulai dengan sedikit pengantar dari Ketua Dewan Racana (KDR), Kak Adam dan sedikit arahan dari tim penilai yang diwakili oleh Kak Hayat. Selama 30 menit, para calon Pandega secara bergantian menyampaikan laporan pengembaraan. Mulai dari proses perjalanan dari Jakarta menuju ke Malang, studi banding, studi wisata, bakti sosial, laporan keuangan hingga rekomendasi-rekomendasi dari tim pengembaraan yang ditujukan kepada Dewan Racana dan warganya.

Usai mempresentasikan hasil yang didapat selama pengembaraan, tiba giliran para Pandega dan purna Pandega untuk mengkritisi terhadap apa yang mereka laporkan. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh para Pandega, bahkan tak sedikit beberapa klarifikasi dan informasi yang disampaikan kepada tim pengembaraan sebagai pembanding dengan apa yang mereka peroleh selama pengembaraan. Disinilah proses pendewasaan para calon pandega, pandega dan purna pandega diuji.

Setelah dirasa cukup dalam memberikan pandangan, saran serta komentar-komentar berkaitan dengan apa yang dilaporkan peserta pengembaraan, akhirnya acara dilanjut dengan presentasi laporan pribadi. Sebanyak 25 calon Pandega itu mempresentasikan laporan ‘jejak rekam perjalanan’ masing-masing kepada para Pandega yang telah ditunjuk sebagai mentornya. Waktu 30 menit yang ditentukan rupanya dirasa belum cukup bagi mereka untuk saling ‘ngobrol‘ lebih santai tentang perjalanannya selama sepekan di Malang. Akhirnya, disepakati untuk memberi waktu tambahan 10 menit untuk calon Pandega saling sumbang saran dan masukan bersama mentor tentang apa yang mereka dapat selama pengembaraan.

Serah terima berkas laporan perngembaraan dari Kak Olid ke wakil KDR, Kak Yuli (foto dok. kominfo DRFN)

Meski waktu tambahan masih dirasa kurang, namun mau tidak mau harus diakhiri untuk segera mendengarkan pandangan akhir dari tim penilai yang menjadi mentor para calon pandega dalam laporan pribadi. Dalam pandangan akhir tersebut, mayoritas tim penilai menyatakan menerima laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009, meski ada diantaranya yang memberikan kata ‘dengan syarat’. Dalam kesempatan itu hanya satu Pandega saja yang dengan tegas menyatakan menolak laporan tersebut. “Dengan sangat menyesal saya menolak laporan pengembaraan angkatan 2009,” tegas Kak Emon mantan Pemangku Adat Putra.

Akhirnya, karena sebagian besar menerimanya, maka laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009 pun diterima. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus dilengkapi dalam laporan tersebut. Serah terima laporan pengembaraan secara simbolis dilakukan oleh Ketua Kelompok yang diwakili oleh Kak Awan dan Kak Olid menyerahkan berkas laporan kelompok dan laporan pribadi kepada KDR Kak Adam dan Wakil KDR Kak Yuli. Dengan raut wajah sumringah keduanya menerima laporan tersebut.

Di bawah ini beberapa bidikan perjalanan tim pengembaraan calon pandega angkatan 2009:

saat upacara pelepasan peserta pengembaraan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Penyerahan 'bekal' untuk selama pengembaraan oleh KDR Kak Adam kepada Ketua Kelompok Pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Ada beberapa proses yang terlewati sehingga mau tak mau harus dikerjakan saat itu juga. (foto dok. kominfo DRFN)

Pengarahan khusus, sekedar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur. (foto dok. kominfo DRFN)

Akhirnya perjalanan pun dimulai.... (foto dok. kominfo DRFN)

Upacara penyambutan peserta pengembaraan ketika tiba kembali di kampus UIN Jakarta pada Sabtu (20/2). (foto dok. kominfo DRFN)

Ritual adat penyambutan warga --yang dilakukan oleh Pemangku Adat-- kembali dari perjalanan pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Calon pandega peserta pengembaraan melakukan sujud syukur setelah dinyatakan diterima secara adat sekembalinya pulang dari pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Paling tidak itulah jejak rekam proses pengembaraan yang berlangsung di kampus UIN Jakarta. Untuk kisah para ‘pengembara’ masing-masing telah menuangkannya dalam ‘jejak rekam pengembaraan’ yang dalam waktu dekat ini bakal kami posting di blog ini…. ada banyak cerita menarik dari masing-masing pengembara, tunggu yaaa….

@@@

Ditulis dan diposting oleh Hayat F (purna Pandega/1995)

Kami Bangga Memilikimu

Indahnya kebersamaan dan kekeluargaan kami, meski adakalanya yang namanya marah-marah, kesal, sebel, kadang bikin bete menghiasi perjalanan hidup kami sebagai organisasi, keluarga besar, yang dihuni dari berbagai macam watak, karakter, budaya dan gaya yang berbeda… hmmm tapi satu jua, Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia…

Kak Adam, Ketua Dewan memberikan bekal berupa energi tambahan dalam bentuk susu UHT... biar kuat dalam perjalanan

Kak Yuli, Waka Dewan dan Kak Adam, Ketua Dewan kembali memberikan bekal 'angpao' untuk antisipasi di perjalanan..."tapi bukanya nanti yaaa kalo kalian tiba di Malang," kata Kak Yuli.

Kak Imam, atasnama Senioren memberikan bekal berupa 'angpao' pula yang merupakan titipan dari Kak Ghozi yang tidak bisa hadir..."Wah tebel banget kak amplopnya, isinya berapa neh?" ujar Kak Didi saat menerima amplop.

Kak Anwar kembali menyampaikan amanah dari salah seorang senior yang karena ga mau dipublikasi alias difoto, memberikan amplop berisi KOIN CINTA dari senior pada juniornya... "mungkin kamu bisa rasakan isi amplop ini, inilah koin cinta kami pada kalian," ujar Kak Anwar.

Dan momen inilah yang menjadi bekal tak terhingga begitu dahsyatnya bagi para pengembara sebelum melakukan perjalanan..."Hati-hati di jalan, jaga kekompakan, kebersamaan, doa kami menyertai kalian," begitu kira-kira yang dilontarkan para senior pada juniornya pagi menjelang siang itu.

Dan akhirnya mereka pun melangkahkan kaki dengan begitu ringan, tanpa beban meski beban dipunggung mereka begitu berat sebagai perbekalan selama sepekan di Malang... selamat jalan semoga sukses..

Kalau dilihat dari momen-momen yang diabadikan dalam gambar di atas, sadar atau tidak, ibarat sebuah keluarga, kami sesama anggota Racana Fatahillah – Nyi Mas Gandasari, UIN Jakarta ternyata saling memiliki. Ada keterkaitan diantara mereka, meski semuanya dipertemukan ketika menjejaki usia dewasa muda. Bahkan asal muasalnya pun berlainan, ada yang dari pribumi Jakarta, ada pula yang datang dari daerah nun jauh di ujung barat Indonesia sana. Ya, meskipun di satu sisi ada pula yang memang ada diantara kami yang berasal dari hubungan sedarah alias saudara kandung. Namun ketika semuanya itu bertemu di keluarga bernama Racana Fatahillah – Nyi Mas Gandasari, semuanya menjadi satu menduduki posisinya masing-masing. Tentunya yang lebih dulu menjadi kakak yang bijak, sementara yang gabung belakangan ya mau tidak mau menjadi adik yang baik, meski ‘semesternya’ tua.

Dan memang seperti itulah kami, Racana Fatahillah – Nyi Mas Gandasari, rasa kekeluargaan lebih kental. Seperti yang terjadi saat melepas 25 (adik-adik) peserta pengembaran ke Malang, tanpa mereka (peserta) ketahui sebelumnya, para ‘senior’ baik yang hadir maupun tidak hadir menitipkan sesuatu ‘bekal’ untuk perjalanan mereka selama mengembara… dan memang ini sudah menjadi tradisi tak tertulis kami yang selalu memberikan yang terbaik sesama anggota….

Saat foto-foto ini diposting, konon menurut kabar, para pengembara 2009 tengah siap-siap menuju kembali ke pangkuan Racana UIN Jakarta… paling tidak dalam jadwal yang mereka buat, diperkirakan Sabtu, (20/2) siang mereka tiba di kampus Ciputat.

@@@

*Ditulis dan diposting oleh Hayat F (Purna Pandega/95)

Berkarya nyata, bergembira ria, menuju cita-cita nan mulia