Seputar ‘Proses dan Hasil’ Laporan Pengembaraan Angkatan 2009

Suasana presentasi laporan pengembaraan angkatan 2009 pada Minggu (21/3) sore yang akhirnya harus ditunda selama dua pekan. Pertemuan digelar kembali pada Jumat (2/4). (foto dok. kominfo DRFN)

Proses itu harus jujur dan tanpa pamrih. Sesukses apapun hasilnya itu tentunya yang menjadi dasar penilaiannya ada pada proses. Jadi, bukan berarti hasilnya tak dihargai, namun  karena melihat prosesnya ada yang janggal, maka hasil itu sama sekali tak ada artinya apa-apa. Pun dengan laporan yang kalian buat, sehebat apapun, karena kami melihat ada yang tidak beres, maka dengan sangat menyesal, kami belum bisa menerima laporan ini, sebelum ada perubahan.

berkas laporan pengembaraan calon pandega angkatan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Ya, paling tidak itulah kesimpulan para penilai akhir yang terdiri dari para purna Pandega dan Pandega yang tergabung dalam Dewan Kehormatan Pandega yang didampingi pengurus Dewan Racana Pandega Fatahillah-Nyi Mas Gandasari  terhadap laporan perjalanan calon Pandega angkatan 2009 yang melakukan pengembaraan beberapa waktu lalu –dalam rangka memenuhi tahapan proses pembinaan calon Pandega menjadi Pandega di Racana UIN Jakarta. Pengembaraan sendiri dilakukan pada 14 – 20 Februari 2010 dari Jakarta ke Malang, Jawa Timur.

Akhirnya, laporan Pengembaraan yang berlangsung pada Minggu (21/3) itu ditunda untuk sementara waktu karena beberapa alasan. Selain ketidakhadiran dua orang calon Pandega yang ikut dalam pengembaraan, para penilai akhir pun melihat adanya inkonsistensi dari para peserta untuk bisa hadir bersama. Memang keputusan untuk ditunda atau dilanjutkan laporan tersebut dikembalikan lagi kepada para calon Pandega yang tengah ‘berproses’ menjadi Pandega.

Saat itu memang ada dua pilihan yang ditawarkan  oleh tim penilai. Pertama, pertemuan laporan tetap dilanjutkan untuk presentasi laporan pribadi sedangkan laporan kelompok ditunda. Dimana, setiap calon Pandega melaporkan perjalanannya dan hasil yang didapat selama ‘pengembaraan’ mereka yang tentunya sudah mereka tuangkan dalam bentuk ‘jejak rekam perjalanan’. Sementara dua orang Calon Pandega yang tidak hadir akan menyusul, berikut presentasi laporan kelompok.  Opsi kedua adalah laporan kelompok maupun laporan pribadi ditunda hingga seluruh peserta bisa berkumpul semuanya. Dan rupanya, opsi kedua inilah yang mereka pilih. Ya, mungkin para calon Pandega ini ingin menunjukkan bahwa mereka masih tetap ‘konsisten’ dengan apa yang dulu disampaikan saat presentasi pengajuan proposal pengembaraan. Akhirnya setelah mereka berunding mengenai waktunya, maka jatuhlah pada hari Jumat, (2/4).

Dan memang, ketika waktunya tiba, Jumat siang berhias hujan rintik-rintik bertempat di lobi parkiran FITK pertemuan lanjutan atau lebih pasnya pertemuan ulang berlangsung. Kali ini pertemuan berlangsung santai dan ketegangan agak mulai mencair. Hal ini tampak dari raut wajah calon Pandega yang lebih ceria dan sumringah dengan tanpa harus mengenakan ‘seragam kebesaran’ mereka alias baju Pramuka. Meski ada beberapa Pandega juga yang mengenakan baju pramuka.

Presentasi pun dimulai dengan sedikit pengantar dari Ketua Dewan Racana (KDR), Kak Adam dan sedikit arahan dari tim penilai yang diwakili oleh Kak Hayat. Selama 30 menit, para calon Pandega secara bergantian menyampaikan laporan pengembaraan. Mulai dari proses perjalanan dari Jakarta menuju ke Malang, studi banding, studi wisata, bakti sosial, laporan keuangan hingga rekomendasi-rekomendasi dari tim pengembaraan yang ditujukan kepada Dewan Racana dan warganya.

Usai mempresentasikan hasil yang didapat selama pengembaraan, tiba giliran para Pandega dan purna Pandega untuk mengkritisi terhadap apa yang mereka laporkan. Beberapa pertanyaan dilontarkan oleh para Pandega, bahkan tak sedikit beberapa klarifikasi dan informasi yang disampaikan kepada tim pengembaraan sebagai pembanding dengan apa yang mereka peroleh selama pengembaraan. Disinilah proses pendewasaan para calon pandega, pandega dan purna pandega diuji.

Setelah dirasa cukup dalam memberikan pandangan, saran serta komentar-komentar berkaitan dengan apa yang dilaporkan peserta pengembaraan, akhirnya acara dilanjut dengan presentasi laporan pribadi. Sebanyak 25 calon Pandega itu mempresentasikan laporan ‘jejak rekam perjalanan’ masing-masing kepada para Pandega yang telah ditunjuk sebagai mentornya. Waktu 30 menit yang ditentukan rupanya dirasa belum cukup bagi mereka untuk saling ‘ngobrol‘ lebih santai tentang perjalanannya selama sepekan di Malang. Akhirnya, disepakati untuk memberi waktu tambahan 10 menit untuk calon Pandega saling sumbang saran dan masukan bersama mentor tentang apa yang mereka dapat selama pengembaraan.

Serah terima berkas laporan perngembaraan dari Kak Olid ke wakil KDR, Kak Yuli (foto dok. kominfo DRFN)

Meski waktu tambahan masih dirasa kurang, namun mau tidak mau harus diakhiri untuk segera mendengarkan pandangan akhir dari tim penilai yang menjadi mentor para calon pandega dalam laporan pribadi. Dalam pandangan akhir tersebut, mayoritas tim penilai menyatakan menerima laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009, meski ada diantaranya yang memberikan kata ‘dengan syarat’. Dalam kesempatan itu hanya satu Pandega saja yang dengan tegas menyatakan menolak laporan tersebut. “Dengan sangat menyesal saya menolak laporan pengembaraan angkatan 2009,” tegas Kak Emon mantan Pemangku Adat Putra.

Akhirnya, karena sebagian besar menerimanya, maka laporan pengembaraan calon Pandega angkatan 2009 pun diterima. Namun demikian, ada beberapa hal yang harus dilengkapi dalam laporan tersebut. Serah terima laporan pengembaraan secara simbolis dilakukan oleh Ketua Kelompok yang diwakili oleh Kak Awan dan Kak Olid menyerahkan berkas laporan kelompok dan laporan pribadi kepada KDR Kak Adam dan Wakil KDR Kak Yuli. Dengan raut wajah sumringah keduanya menerima laporan tersebut.

Di bawah ini beberapa bidikan perjalanan tim pengembaraan calon pandega angkatan 2009:

saat upacara pelepasan peserta pengembaraan 2009 (foto dok. kominfo DRFN)

Penyerahan 'bekal' untuk selama pengembaraan oleh KDR Kak Adam kepada Ketua Kelompok Pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Ada beberapa proses yang terlewati sehingga mau tak mau harus dikerjakan saat itu juga. (foto dok. kominfo DRFN)

Pengarahan khusus, sekedar untuk memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur. (foto dok. kominfo DRFN)

Akhirnya perjalanan pun dimulai.... (foto dok. kominfo DRFN)

Upacara penyambutan peserta pengembaraan ketika tiba kembali di kampus UIN Jakarta pada Sabtu (20/2). (foto dok. kominfo DRFN)

Ritual adat penyambutan warga --yang dilakukan oleh Pemangku Adat-- kembali dari perjalanan pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Calon pandega peserta pengembaraan melakukan sujud syukur setelah dinyatakan diterima secara adat sekembalinya pulang dari pengembaraan (foto dok. kominfo DRFN)

Paling tidak itulah jejak rekam proses pengembaraan yang berlangsung di kampus UIN Jakarta. Untuk kisah para ‘pengembara’ masing-masing telah menuangkannya dalam ‘jejak rekam pengembaraan’ yang dalam waktu dekat ini bakal kami posting di blog ini…. ada banyak cerita menarik dari masing-masing pengembara, tunggu yaaa….

@@@

Ditulis dan diposting oleh Hayat F (purna Pandega/1995)

Iklan

2 pemikiran pada “Seputar ‘Proses dan Hasil’ Laporan Pengembaraan Angkatan 2009

  1. Waaah selamat yaaa akhirnya setelah melalui perjuangan panjang diterima juga laporan pengembaraan kalian…ingat masih ada anak tangga yang harus kalian naiki lagi… sukses terusss… semangat dan bravo buat angkatan 2009…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s