Senior Bukan Tukang Gergaji Kreativitas Juniornya

“Ah udah capek, ninggalin kuliah, masih aja diomelin ama senior. Maunya apa sih mereka?”

Pastinya, keluh kesah seperti diatas pernah dilontarkan oleh anggota sebuah organisasi pembinaan, termasuk Racana sebagai salah satu wadah pembinaan bagi pramuka usia pandega (21-25 tahun). Bahkan bisa jadi dumelan seperti itu pernah didengar atau sampe di telinga para senior yang dimaksud.  Ya, pasalnya penulis sendiri pernah merasakannya, mendengarnya dari ‘junior’. Tak heran bila, ada anggapan bahwa keberadaan senior hanya sebatas ‘tukang gergaji’ kreativitas para anggota.

Tentunya, anggapan seperti itu, diakui atau tidak bisa jadi ada benarnya. Namun tergantung dari sudut mana kita menyikapinya. Bagi kalangan anggota junior, kadang kala senior adalah ‘algojo’, namun di suatu saat kadang pula jadi ‘dewa penyelamat’. Sejatinya, sebutan senior dan junior muncul hanya karena satu pihak gabung terlebih dahulu sementara pihak -yang disebut junior– baru bergabung. Dan kondisi itu terus belanjut hingga waktu yang belum diketahui nanti. Tepatnya sampe organisasi itu masih melakukan rekrutmen, ya sebutan senior-junior akan tetap ada.

Nah, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa senior bukan berarti yang lebih pinter, lebih tahu, lebih menguasai atau lebih-lebih lainnya. Hanya saja, senior itu ada karena adanya junior berikut-berikutnya. Bisa saja, situasi dan kondisi serta ruang dan waktu yang berbeda itulah yang kadang menjadikan sang senior merasa lebih mengetahui, menguasai dan lain halnya. Pun dengan junior, yang merasa lebih tahu situasi, kondisi dan kebutuhan yang ada saat ini. Sehingga tak heran, ketika para junior mengadakan suatu kegiatan, lantas dicap oleh senior sebagai langkah yang salah atau sebagainya yang notabene tidak sesuai dengan aturan terkadang tanpa pikir panjang selalu balik mencap senior sebagai tukang gergaji segala kreativitas mereka. Inilah yang kadang menjadi ‘pemicu’ munculnya konflik antara senior dan junior.  Termasuk di dalam tubuh organisasi pramuka pandega atau yang disebut racana.

Jadi, menurut hemat saya, salah bila senior hanya tampil sebagai tukang gergaji. Meski kehadiran mereka yang terkadang selalu lebih tampak seperti tukang gergaji, tak dipungkiri pula. Namun saya, yakin, kehadiran mereka dengan ‘penampakan’ seperti itu bukan lain dan bukan tidak hanya untuk menempatkan sesuatunya tetap pada jalurnya, yang tentunya sesuai dengan aturan, bukan mengada-ada. Memastikan apa-apa yang dijalankan para juniornya itu berjalan sebagaimana mestinya.

Begitu pula dengan junior,  menurut penulis, salah bila selalu menilai dan menganggap keberadaan senior selalu menjadi tukang gerjaji, yang siap memotong kreativitas dan semangat mereka dalam berorganisasi. Sebisa mungkin para junior pun lebih bisa menerima dan menghormati keberadaan mereka sewajarnya saja, sebagai para pendahulu. Dan sebisa mungkin jadikan mereka sebagai rujukan, panduan dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Bukan berarti mereka lebih tahu atau lebih menguasai, tapi bisa jadi memang mereka para senior lebih paham dan mengerti.

Jadi, ungkapan diatas yang kadang dilontarkan para anggota baru/muda terhadap anggota lama/tua sudah menjadi rahasia umum. Dan hal ini yang tanpa disadari menjadi ‘daya gedor’ yang kuat bagi perkembangan sebuah organisasi. Karena tanpa disadari pula, keluh kesah seperti itu bisa jadi karena ketidaktahuan mereka para junior, terhadap karakter serta watak dari para seniornya –karena ruang dan waktu yang berbeda– yang belum tentu semua sama.

Toh senior juga manusia, yang tak pernah luput dari kekurangan dan ketidaktahuan. Pun juga junior, yang baru bergabung tentunya belum begitu banyak tahu tentang kehidupan mereka para senior semasa menjadi anggota dan junior dulu. hehehehe…. Peace para senior, peace para junior!!!

Semoga tulisan ini menjadi pemantik untuk menyalakan api unggun agar bisa berkobar, menyala-nyala di malam yang gelap gulita. Salam Pramuka!!!

=======

@@@

*Ditulis dan diposting oleh Hayat F (Purna Pandega/95)

Berkarya nyata, bergembira ria, menuju cita-cita nan mulia

Tulisan ini ditulis oleh seorang senior, sebagai kritik terhadap dirinya dan ‘lembaga’ senior itu sendiri juga pada junior yang menjadi binaanya.


Iklan

7 pemikiran pada “Senior Bukan Tukang Gergaji Kreativitas Juniornya

  1. Ayooo senior mana yang sering jadi tukang gergaji?? hmm sebenere mereka bukannya jadi tukang gergaji kok, tapi jadi guru, teman sekaligus kakak yang sayang dan perhatian pada juniornya… lebayyy dahhh…

  2. menjunjung tinggi kekeluargaan, kerena racana ini terbangun adanya unsur kekeluargaan bukan unsur angkatan. Jadi Warga-Dewan-DKP-Senioren-Pembina rantai ini harus jalan. adanya Racana ini karena ada yang memulai…jadi yang memulai harus bertanggung jawab pada yang mengikuti jejaknya, yang kecil jangan jalan sendiri entar hilang lho. hehe.. Salam Pramuka!

    • Guuuuud… wah dah berasa jadi senior neh kak cho’an hehehhe… bahasanya dah tua wkwkwkwk… makasih kak udah komen… semoga sebutan senior itu hanya sebatas nama saja… tapi sejatinya posisinya sama, setara sebagai anggota keluarga besar racana yang kita cintai ini… btw: jangan lupa pulang dari Pati bawa oleh2 yaaa… inget ama sedulur2…hehehe…

      • Insyaallah kak, masalahnya gak bisa pulang-pulang nih kak. Ya Alhamdulillah sudah belajar menjadi orang sok sibhuk, Memang Pramuka aku suka karena dari Pramuka aku bisa belajar bisa tau mana yang waras dan mana yang edan. I love Pramuka

  3. loooh bukannya kemarin llibur panjang kak anwar pulang kampung?? di Pati kan banyak sapi yaaa? ato kalo ga bawa kacang DEKA deh Dua Kelinci itu loooo??? :))

    • Aku gak jadi Pulang kak! karena ada tugas yang tiak bisa ditinggalkan dan acara di racana juga bejibun kayak gitu, karena bulan desember tanggal 25 kemaren udah pulang jadi ya Nunggu semester yang akan datang atau Libur lebaran lagi. kalau gak pingin pulang???!!!
      Kalau 2 Kelinci gak usah pulang juga bisa kak! kan udah ada di toko-toko dekat rumah kakak he..he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s